Hai Gaes,

Nggak terasa kita sudah ada di penghujung tahun 2017, ya. Sudah jalan kemana aja tahun ini? Sudah "goal" semua kah destinasi impiannya? 

Alhamdulillah, di penghujung tahun ini aku diberi rezeki bisa jalan-jalan ke destinasi wisata yang jadi impianku sejak dulu. Kebetulan aku dipercaya menjadi KOL event Insto Let's Go to Labuan Bajo 2017. Alhamdulillah, bisa kerja sekaligus jalan-jalan. 

Aku menyebutnya sebagai asa yang menjadi nyata. Labuan Bajo adalah sebuah angan-angan yang jadi kenyataan. Yups, aku benar-benar beruntung akhirnya bisa menginjakkan kaki disana. Di negeri timur Indonesia, negeri nan indah memesona.

Aku bersama 20 orang lain akan mengeksplor Labuan Bajo selama 3 hari 2 malam menggunakan kapal semi phinisi. Tanggal 23 November 2017, aku berangkat dari Semarang dengan pesawat paling pagi menuju Cengkareng. Meeting point kami memang di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Pesawat dari Jakarta menuju Labuan Bajo take off sekitar pukul 11.20 WIB.




Kami akan terbang menggunakan pesawat dengan seat 2-2 dan kapasitas penumpang hanya 70an orang. Perjalanan dari Jakarta ke Labuan Bajo memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Aku yang sudah lama nggak naik pesawat cukup nervous saat awak kabin mengumumkan bahwa penerbangan kami berada dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Kulihat diluar jendela hanya awan kelabu yang terlihat. Aku memejamkan mata dan mencoba untuk tidur tapi tak bisa. Kepalaku mendadak pusing, mual dan keringat dingin mulai bercucuran. Jujur saja, aku takut banget waktu itu.

Untunglah cuaca buruk tidak berlangsung lama. Awak kabin memberitahukan bahwa dalam beberapa menit pesawat akan segera landing di Bandar Udara Komodo. Diluar jendela pemandangan berubah. Terlihat hamparan laut biru dengan pulau-pulau kecil bertebaran. Aku bernafas lega meskipun kepalaku masih sakit dan perut masih mual.

Pesawat akhirnya landing dengan mulus di Bandara Komodo. Kami tiba di Bandar Udara Komodo sekitar pukul 14.00 WITA (beda waktu satu jam). Udara panas khas dataran Nusa Tenggara Timur langsung menyeruak. Perutku masih mual. Mungkin ini ya yang namanya jet lag. Meski begitu, aku sempat meminta teman untuk mengambilkan gambar di depan bandara *biarpun jet lag, narsis tetep wajib. LOL.



Belum puas mengambil gambar, kami semua sudah diminta pergi (diusir dengan halus. LOL) oleh petugas bandara. Hihi, maafkan kami ya pak.

Aku dan teman-teman segera beranjak menuju ruang bandara untuk mengambil bagasi. Kepalaku masih sedikit pusing, sampai-sampai tak menyadari ada seseorang yang menyapa. Rupanya dia adalah teman blogger Lombok yang juga teman satu komunitas di Semarang.

Urusan bagasi selesai kami keluar bandara dimana tour guide kami sudah menjemput. Tour guide kami ini merupakan penduduk setempat yang akan memandu kami selama 3 hari 2 malam mengeksplor Labuan Bajo. Menggunakan bus, kami menuju ke pelabuhan yang berjarak kurang lebih 15 menit dari bandara.

Kami sempat berhenti di Puncak Waringin. Sebuah lokasi yang cukup pas untuk mengambil gambar pelabuhan dengan kapal-kapalnya yang berjajar. kami dipersilahkan untuk mengambil gambar. Aku sendiri nggak bisa fokus mengambil gambar, karena di tempat ini aku sempat mengeluarkan semua isi perutku alias jackpot. Haha.

Pemandangan dari Puncak Waringin
Setelah puas mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa menit lagi. Kami dianjurkan untuk berbelanja kebutuhan pribadi karena selama 3 hari kedepan kami hanya akan berada di laut. Jadi mumpung belum berlayar, kami semua belanja-belanja, deh.

Kurang lebih 5 menit kemudian rombongan kami tiba di pelabuhan Labuan Bajo. Aroma laut menyeruak  hingga ke paru-paru. Rasa mual dan pusingku mendadak hilang begitu melihat kapal semi phinisi yang akan membawa kami berlayar selama 3 hari 2 malam mengelilingi kawasan Komodo National Park.

Live on Board 3 Hari 2 Malam, Petualangan pun Dimulai

Jadi, aku dan teman-teman seperjalananku akan berpetualang selama 3 hari 2 malam diatas kapal. Kami dibagi menjadi 2 kelompok dan akan berlayar dengan kapal yang berbeda. Tim biru berada di kapal Lambo Rajo, sedangkan tim hijau di kapal Lensa Flores. Aku dan 8 orang lainnya berada di kapal Lensa Flores. Kami bergantian diantar menuju kapal masing-masing menggunakan sekoci karena kapal nggak bisa bersandar di dermaga.

Kapal ini memiliki 1 kamar VIP yang bisa dipakai untuk 2 orang dan 3 kamar dengan bunk bed yang bisa dipakai untuk 4 orang di lantai bagian bawah. Meski akan tinggal di kapal selama 3 hari 2 malam, tapi kami nggak khawatir karena fsilitas yang disediakan mirip seperti fasilitas hotel. Mulai dari tempat untuk beristirahat, kamar mandi yang lumayan bagus kondisi dan suplai air nya, makanan dan minuman hingga tempat untuk bersantai. Mungkin hanya sinyal aja yang kadang menghilang. Tapi bagus juga sih, setidaknya kami jadi fokus dengan liburan kali ini. Hihi...

Kapal Lensa Flores
Kamar VIP di kapal Lensa Flores. Ini kamarku selama 3 hari 2 malam

Setelah meletakkan tas di kamar dan melihat-lihat ke sekeliling kapal, aku beranjak turun. Teman-teman yang lain juga berkumpul di depan mini bar sambil menikmati jus buah naga yang sudah disiapkan. Kami mendengarkan penjelasan tour guide yang mengatakan bahwa tujuan pertama kami adalah Pulau Kelor yang letaknya tak begitu jauh dari pelabuhan. Kami hanya perlu menempuh perjalanan selama 50 menit saja.

Pulau Kelor adalah sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Pulau inilah yang biasanya kalian lihat ketika kalian googling tentang Labuan Bajo. Aku dan beberapa teman sempat berpose dan mengambil gambar di depan sebuah pohon yang disebut pohon google. Mungkin karena pohon ini yang sering muncul di pencarian google, ya.

Langsung jatuh cinta pada pantainya
Ekspresi bahagia

Pulau Kelor ini berpasir putih dengan air laut yang tenang. Saya memilih menikmati suasana dengan bermain air dan melihat-lihat ke sekeliling pantai, sedangkan teman lain ada yang trekking ke atas bukit dan ada juga yang langsung nyebur untuk snorkling.

Sayangnya kami nggak bisa berlama-lama dan menikmati sunset di pulau Kelor karena cuaca mendung dan hujan mulai turun. Kami pun harus kembali ke kapal sebelum kehujanan dan melanjutkan perjalanan. Kapal yang kami tumpangi kembali membelah lautan, melewati pulau-pulau tak berpenghuni dan akhirnya bersandar di sekitar pulau Kambing.

Malamnya kami berkumpul di anjungan kapal dan berbaring menatap langit yang penuh bintang. Syahdu banget. Sayangnya semakin malam angin laut semakin basah, membuat kami harus kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Petualangan baru menanti esok pagi.

Menaklukkan Puncak Padar dan Serunya Syuting My Trip My Adventure

Aku terbangun saat mendengar bunyi mesin kapal mulai menderu. Hampir semalaman aku nggak bisa tidur karena AC kamar yang kurang dingin. Selain itu karena ingat anak-anak dan suami yang jauh di sana *halah. LOL.

Setelah mandi dan bersiap, aku keluar kamar dan duduk di sun lounge. Beberapa teman sudah berkumpul. Sepertinya semuanya sudah siap untuk bertualang ke tempat baru. Kata tour guide kami, hari kedua ini kami akan ke Pulau Padar dan trekking menuju puncaknya.

Hari ini kami juga ada jadwal syuting bersama tim My Trip My Adventure dari Trans TV. Ini merupakan kali kedua aku ikutan syuting MTMA bersama Insto. Tahun lalu aku sempat ikut ketika mendapat hadiah liburan impian ke Gili Trawangan. Jadi sedikit banyak aku sudah paham bagaimana akan melelahkannya menjalani syuting MTMA.

Bersiap menuju Pulau Padar
Bergiliran diantar memakai sekoci
Berpose dulu sebelum trekking
Untung ada tangga

Pulau Padar rupanya sedang berbenah. Untuk memudahkan para wisatawan yang ingin menuju puncak, kini sedang dibangun tangga dan jalur trekking. Meskipun ada yang menganggap pembangunan jalur trekking di Pulau Padar ini merusak lingkungan, tetapi sebagian wisatawan pasti setuju kalo adanya tangga dan jalur trekking ini cukup membantu wisatawan.

Untuk menuju puncak, kami harus menempuh jarak kurang lebih 1 kilometer dengan ketinggian 1600 meter. Meski langkah mulai berat, nafas mulai tersengal aku berusaha menantang diri sendiri untuk bisa sampai ke puncak. Aku sedikit terbantu dengan jalur trekking yang dibuat warga setempat, meski untuk sampai ke puncak masih ada jalur yang masih berbatu dan cukup terjal. Aku harus berhati-hati agar tidak terjatuh.

Akhirnya setelah bersusah payah dan berlelah-lelah, aku bisa sampai puncak Padar. Hilang sudah rasa lelah berganti dengan rasa takjub ketika memandang ke sekeliling. Pemandangan yang biasanya hanya bisa aku saksikan melalui televisi atau gambar, kini bisa aku lihat secara langsung di depan mataku. Berkali-kali aku mengucap syukur karena bisa menginjakkan kaki di tempat ini.

Akhirnya bisa sampai ke puncak Padar

Meski belum puas mengabadikan momen di puncak Padar, kami harus segera mengikuti kegiatan syuting MTMA. Kami bertemu dengan para kru dan host MTMA yang sudah menunggu kami sejak subuh. Setelah mendengar arahan dari kru untuk pengambilan gambar, kami mulai syuting dan mengambil adegan demi adegan. Meski harus mengalami beberapa kali retake tapi suasana syuting tetap seru karena para host cukup interaktif dengan kami.

Pada kesempatan syuting kali ini aku kembali bertemu dengan Rikas Harsa setelah tahun lalu juga syuting bersama. Selain Rikas, ada juga Widika Sidmore dan Della Dartyan yang turut syuting MTMA Labuan Bajo edisi khusus bersama Insto.

Akhirnya ketemu lagi sama dia

Proses syuting akhirnya selesai ketika matahari mulai meninggi. Matahari semakin terik, udara makin terasa kering, peluh pun mulai bercucuran. Kami harus segera kembali ke kapal dan melanjutkan syuting di kapal dan Pink Beach. 

Meski ini bukan kali pertama ikut syuting MTMA, tapi tetap saja aku merasa excited karena tiap pengalaman pasti memiliki sensasi yang berbeda. Selain lokasinya yang lebih menantang, syuting kali ini lebih banyak peserta yang bisa interaktif dan terlibat dalam pengambilan gambar.

Dikerjain kru MTMA

Setelah kembali ke kapal dan makan siang, syuting dilanjutkan diatas kapal Lensa Flores. Kami seru-seruan diajak berjoget ala My Trip My Adventure. Setelah itu beberapa diantara kami ditantang untuk ikut nyemplung ke laut dengan melompat dari atas kapal. Aku sih cuma bisa melihat aja dari atas karena aku nggak bisa berenang. Takut tenggelam, euy. Hihi..

Salah satu kegiatan syuting di laut

Setelah pengambilan gambar dirasa cukup, teman-teman dan host MTMA naik ke kapal karena kami harus segera berpindah tempat ke Pink Beach. Perjalanan menuju Pink Beach membutuhkan waktu sekitar 30 menit. 

Akhirnya sampai di Pink Beach

Tadinya aku pikir warna pasir Pink Beach akan benar-benar berwarna pink seperti namanya, tapi ternyata dugaanku salah. Warna pink pada pantainya ternyata telah memudar. Katanya sih gara-gara banyak wisatawan yang mengambil pasirnya untuk dibawa pulang, jadi lama kelamaan warna pasir jadi memudar. Sayang banget, ya. 

Di Pink Beach ini kami melanjutkan syuting sesi ketiga. Ada beberapa kali pengambilan gambar pada saat kami bermain air dengan menggunakan giant floaties. Seru banget, karena kami dan host MTMA dapat membaur dan berinteraksi dengan natural. Syuting pun tak membutuhkan waktu lama. 

Syuting sesi terakhir

Selesai syuting kami dibebaskan untuk bermain di area Pink Beach. Sebagian teman-teman ada yang snorkling sedangkan sebagian lain hanya bermain air di pinggir pantai termasuk aku. Karang-karang di Pink Beach cukup tajam menyebabkan jari dan telapak kakiku terluka. Bahkan sampai sekarang, lukanya masih membekas, loh.

Akhirnya aku hanya duduk manis saja di pinggir pantai bersama beberapa teman lain sambil menikmati sunset. Eh ternyata, saat matahari hampir terbenam pasir di Pink Beach mulai berubah menjadi pink loh. 

Sayangnya kami harus segera kembali ke kapal sebelum matahari benar-benar terbenam. Kami harus segera membersihkan diri dan beristirahat untuk kegiatan hari terakhir di Pulau Komodo.

Bertemu Komodo di Komodo National Park

Tujuan terakhir perjalanan kami di Labuan Bajo adalah Komodo National Park. Kami akan melihat komodo dari dekat. Sebenarnya populasi komodo tidak hanya berada di pulau ini saja tapi juga di  pulau lain seperti pulau Rinca. Hanya saja jalur trekking di Pulau Rinca nggak memungkinkan bagi kami yang sedang diburu waktu.

Dermaga Pulau Komodo
Hari masih cukup pagi ketika kami tiba di pulau Komodo. Meski begitu kami harus bergegas karena waktu yang terbatas. Kami hanya punya waktu sekitar 1,5 jam untuk short trekking di sekitar kawasan taman nasional.

Kedatangan kami disambut oleh para rangers yang biasa menemani wisatawan yang ingin melihat komodo dari dekat. Sebelum memulai short trekking, kami mendengar briefing terlebih dulu dari bapak ranger. Selama berkeliling kami tidak boleh gaduh, tidak boleh menarik perhatian komodo, tak boleh lari dan tidak boleh berpencar. Indera penciuman komodo terhadap darah sangat tajam, makanya untuk wanita yang sedang haid disarankan untuk tidak  masuk ke dalam pulau Komodo tanpa didampingi ranger.

Ranger, si pawang Komodo

Di kawasan taman nasional ini masih ada ratusan komodo yang hidup berkeliaran dengan bebas. Mereka hidup berdampingan dengan damai dengan penduduk sekitar. Konon komodo sudah dianggap sebagai saudara atau keluarga oleh masyarakat asli pulau Komodo. Selain komodo ada juga rusa dan beberapa hewan liar lain. Aku sih sempat melihat ada beberapa rusa yang berkeliaran dengan bebas di sekitar jalur trekking.

Setelah beberapa ratus meter berjalan, akhirnya kami bertemu komodo juga. Bapak-bapak ranger meminta kami untuk tetap bergerombol dan waspada. Meski terlihat kalem, komodo bisa membahayakan jiwa manusia juga. Akhirnya kami diperbolehkan untuk mengambil gambar dengan pengawasan para ranger. Bahkan para ranger ini jago banget mengambil foto, jadi seolah-olah kami berada dekat banget dengan komodo.

Hayo...mau kemana kamu komodo? kita foto dulu atuh

Sayangnya waktu kami nggak begitu banyak. Kami harus segera menyudahi petualangan kami di pulau Komodo. Kami harus mengejar waktu agar tidak ketinggalan pesawat menuju Jakarta. Belum lagi kami masih harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam menuju pelabuhan Labuan Bajo. Tapi begini aja kami sudah puas banget, bisa melihat komodo dari dekat. Seandainya kami punya waktu lebih panjang tentu bisa mengeksplor lebih jauh pulau Komodo dan pulau lain di sekitarnya.

Perjalanan selama 3 hari 2 malam di Labuan Bajo sungguh penuh kesan mendalam buatku. Tempat yang biasanya hanya bisa aku lihat dari gambar bisa benar-benar aku datangi. Perjalanan kali ini membuatku percaya bahwa setiap mimpi pasti akan menjadi nyata bagi siapapun yang mengusahakannya.

Ayo gaes, bermimpilah dan kita eksplor keindahan Indonesia yang lainnya!!